Indomedia News menampilkan berbagai berita di Indonesia maupun dunia yang aktual,objektive,menarik dan faktual
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 April 2012
Investor Indonesia Minati Emas sebagai Investasi Utama
JAKARTA - Standard
Chartered Bank dalam
survei menyatakan
pelaku affluent (ekonomi
kuat) Indonesia masih
meminati emas sebagai
investasi utama.
"Secara keseluruhan,
tiga besar investasi
masih didominasi oleh
emas. Jadi ternyata,
segmen affluent
Indonesia sangat suka
dengan investasi emas,"
kata General Manager
Priority and
International Banking
Standard Chartered
Djumariah Tenteram
saat menjelaskan hasil
Survei FuturePriority di
Jakarta, Jumat.
Sebanyak 71% pelaku di
Indonesia memilih
investasi emas dibanding
investasi lain kemudian
pada posisi kedua
ditempati oleh jenis
investasi properti.
Para pelaku yang
memilih investasi di
sektor properti sebanyak
58% untuk menopang
pertumbuhan kekayaan
para affluent Indonesia.
Kemudian pada posisi
ketiga, investor
Indonesia memilih
deposito atau simpanan
dengan bunga tinggi
sebagai penyokong
penambahan
kekayaannya dengan
jumlah pemilih sebesar
42%.
Hal itu menurut dia
lantaran harga emas
yang menarik para
investor. "Jika dilihat 2-3
tahun lalu emas
harganya masih
Rp200-300 ribu per gram,
namun pada saat ini
sekitar Rp490-500 ribu
per gram dan bahkan
sempat Rp520 ribu," jelas
Djumariah.
Sementara itu, menurut
dia, kendala terdapat
pada kurangnya
instrumen emas di
sejumlah bank di
Indonesia karena bank
berpendapat nasabah
hanya tertarik pada
deposito dengan bunga
tinggi.
"Kendalanya adalah kita
tidak punya banyak
instrumen yang
berkaitan dengan emas
selain emas itu sendiri.
Untuk saat ini bank
masih belum mempunyai
kemampuan bertransaksi
yang menggunakan
instrumen emas padahal
minat terhadap emas
besar sekali," kata
Djumariah.
Forbes: Kuncinya Hanya Profitable dan 'Melayani'
Jakarta - PT Bank
Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk
dinobatkan sebagai
perusahaan nasional
yang paling
profitable oleh
Forbes Internasional.
Dari 10 perusahaan
Indonesia yang
masuk ke dalam
2.000 perusahaan
paling untung di
dunia, Bank BRI di
posisi teratas. Selain
itu, terdapat lima
perusahaan
keuangan lainnya.
Dari 10 perusahaan
itu (keuangan dan
non keuangan),
enam perusahaan
adalah milik
pemerintah,
termasuk Bank BRI.
Menurut Direktur
Utama Bank BRI
Sofyan Basir, kunci
utama keberhasilan
Bank BRI adalah
pihaknya fokus pada
pangsa pasar utama
(segment) yakni
pemberdayaan
ekonomi rakyat yakni
usaha mikro, kecil,
dan menengah
(UMKM). “Kuncinya
kita fokus dari sisi
pasar,” ujar Sofyan.
Bank BRI juga fokus
pada perluasan dan
penguatan jaringan
dan akses pelayanan
kepada nasabah.
“Kalau Anda lihat
sekarang nasabah
kami itu dimanjakan,
sebab BRI berada
dimana-mana.
Jadi,kita memberikan
melebihi dari
harapan nasabah
kami. Saya kira kalau
kinerja kami
semacam ini, ini juga
merupakan reward
yang diberikan
nasabah bagi BRI,”
pungkas Sofyan.
Dikatakan Sofyan,
menguatnya pasar
UMKM ini tidak lepas
dari membaiknya
perekonomian rakyat
sejalan dengan upaya
pemerintah dan
berbagai pihak
mendorong
pertumbuhan
ekonomi. “Jadi,
ekonomi kita
memang tumbuh
dengan baik sehingga
pasar UMKM juga
menguat dan kami
memang sudah kuat
di sana,” papar
Sofyan.
Peran Pegawai BRI
Sofyan juga
berterima kasih
kepada segenap
pegawai Bank BRI
yang telah melayani
rakyat Indonesia
sebaik-baiknya
sehingga nasabah
mempercayakan
likuiditasnya dikelola
oleh BRI. “Ada
sebuah transformasi
besar-besaran akan
budaya kerja dan
pelayanan sumber
daya manusia (SDM)
yang baik di BRI.
Sebagai Badan Usaha
Milik Negara ini
adalah sebuah
tantangan bahwa
kami tidak boleh
kalah dari swasta
dalam hal SDM,”
pungkas Sofyan.
Dalam hal
profitabilitas, selain
unggul atas BUMN
lainnya, Bank BRI
mengalahkan bank-
bank Singapura yang
beroperasi di
Indonesia dengan
keuntungan sebesar
US$ 1,7 miliar meski
dari sisi aset di posisi
ke-2 di industri
perbankan.
Profit tersebut juga
sudah setara dengan
laba bank-bank besar
kelas dunia yang
rata-rata �hampir US
$ 2 miliar. Bukan kali
ini Bank BRI
memperoleh
penghargaan serupa.
Pada 2009 lalu, Bank
BRI juga mendapat
penghargaan sebagai
salah satu dari 50
Perusahaan Terhebat
Asia juga dari Forbes
(Asian Fabulous 50).
Bank BRI merupakan
satu-satunya
perusahaan yang
mewakili Indonesia
bahkan mengalahkan
sejumlah perusahaan
kakap Asia lainnya.
Saat ini Bank BRI
tercatat sebagai
bank yang
membukukan laba
terbesar sejak 2005.
Dari sisi jaringan
Bank BRI merupakan
pemilik jaringan
tersebar, terbesar
dan terluas di
Indonesia. Kuat di
sektor UMKM, Bank
BRI telah ditunjuk
oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa
menjadi laboratorium
studi keuangan mikro
dunia dan penyalur
kredit usaha rakyat
(KUR) terbesar.
Meski demikian
peranan Bank BRI
dalam pembangunan
infrastruktur dan
perekonomian
nasional tidak dapat
diabaikan begitu
saja. Itu terlihat dari
meningkatnya
ekspansi Bank BRI
untuk pembiayaan
pembangunan dan
infrastruktur yang
dijamin pemerintah.
Minggu, 22 April 2012
Ya Ampun, 23 BUMN Rugi Rp3,2 Triliun
Kementerian BUMN
mencatat sebanyak 23
perusahaan milik negara
menderita kerugian
senilai Rp3,2 triliun, dari
total laba seluruh BUMN
sebesar Rp123,93 triliun.
"Meskipun mampu
mencetak laba hingga
Rp123,93 triliun, namun
masih terdapat sebanyak
23 perusahaan yang
masih rugi," kata
Sekretaris Kementerian
BUMN, Wahyu Hidayat,
di sela Paparan Kinerja
BUMN Tahun 2011, di
Kantor Kementerian
BUMN, Jakarta, Jumat
(20/4).
Menurut Wahyu, dari 23
BUMN yang merugi
tersebut sebanyak 15
perusahaan di antaranya
merupakan hasil laporan
keuangan unaudited
(belum audit), tiga audit
tahun buku 2012,
selebihnya berdasarkan
audit tahun-tahun
sebelumnya.
Berdasarkan data, rugi
terbesar tahun 2011
dialami PT Pal Indonesia
yang mencapai Rp1,323
triliun, disusul PT
Merpati Nusantara
Airlines sebesar
Rp778,649 miliar.
Selanjutnya, PT
Dirgantara Indonesia
Rp356,527 miliar, PT PT
Danareksa Rp287,37
miliar, PT Bahana PUI
Rp143,977 miliar, PT
Perkebunan Nusantara
XIV Rp113,84 miliar.
Adapun rugi terkecil
yaitu PT Inhutani III
sebesar Rp58 juta, PT
Industri Kapal Indonesia
(Laporan Keuangan
Audited 2010) rugi
sebesar Rp805 juta, dan
PT PDIP Batam sebsear
Rp1,3 miliar.
Wahyu menjelaskan,
Kementerian BUMN
tidak bisa memaksakan
seluruh BUMN harus
mencatat untung karena
proses di tiap-tiap
perusahaan tentu
berbeda. "Meski cita-
cita Kementerian adalah
seluruh BUMN mampu
meraih kinerja keuangan
yang maksimal namun
banyak hal yang harus
dilakukan seperti PT
Kertas Leces," ujarnya.
Meski demikian ia
menambahkan,
pencapaian laba BUMN
tersebut masih bisa
berubah karena belum
seluruhnya
menyelesaikan laporan
keuangan. Secara
keseluruhan total laba
140 BUMN pada 2011
mencapai Rp123,935
triliun, ditargetkan naik
17,45 persen menjadi
Rp145,564 triliun pada
2012. "Pertumbuhan laba
2012 akan didorong
membaiknya
perekonomian nasional,
dan program efisiensi di
masing-masing BUMN
yang diselaraskan
dengan kemampuan
perusahaan dalam
menyediakan belanja
modal (capex) dan
belanja operasional
(opex)," kata Wahyu.
Senin, 16 April 2012
Pembatasan BBM, Langkah Awal
Mudah-mudahan kali ini pemerintah lebih serius dan tidak lagi ragu
membatasi BBM bersubsidi. Penurunan harga minyak mentah sepekan terakhir
kemungkinan berlanjut hingga akhir tahun. Tahun ini, ratarata Indonesia crude price (ICP),
harga minyak mentah Indonesia, kemungkinan di bawah US$ 105 per barel,
harga yang menjadi asumsi APBNP 2012. Jika itu terjadi, APBN tahun ini
cukup aman.
Menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah pasti menjadi kebijakan yang tidak bisa dielakkan pemerintah pada masa akan datang. Siapa pun presiden RI, menaikkan harga BBM dan konversi energi dari BBM ke bahan bakar gas (BBG) adalah sebuah keharusan. Pemerintah juga harus lebih giat dan kreatif dalam mencari energi alternatif. Indonesia kini sudah menjadi net oil importer.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM yang terus meningkat setiap tahun, pemerintah lewat PT Pertamina terus mengimpor minyak mentah dan BBM. Dengan tingkat harga yang relatif rendah akibat besarnya subsidi, konsumsi BBM terus membengkak Defisit energi minyak tahun 2011 sebesar US$ 12,15 miliar dan bakal mencapai US$ 20,67 miliar pada 2012. Ekspor minyak mentah dan produk minyak Indonesia tahun 2011 hanya US$ 18,61 miliar, sedangkan impor pada tahun yang sama mencapai US$ 39,28 miliar. Dengan cadangan minyak mentah sudah menipis, konsumsi BBM bersubsidi perlu dibatasi sebagai langkah melepas ketergantungan terhadap BBM.
Konsumsi BBM bersubsidi terus meningkat dari 38,2 juta kiloliter pada 2010 menjadi 41,7 juta kiloliter pada 2011. Jika tidak dibatasi, konsumsi BBM bersubsidi tahun ini bakal menembus 43 juta kiloliter. Pemerintah dan DPR RI sudah sepakat mematok konsumsi BBM bersubsidi tahun ini 40 juta kiloliter. Kenaikan konsumsi mendorong subsidi BBM yang pada APBN-P 2012 dipatok maksimal Rp 137,4 triliun.
Salah satu cara efektif untuk mengerem konsumsi BBM adalah harga. Jika harga tinggi atau tidak jauh dari harga pasar, konsumsi BBM per individu akan menurun. Orang akan berpikir seribu kali untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kalaupun menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian, pergerakan harus dibatasi. Harga BBM yang murah memicu konsumsi yang tidak terkontrol.
Salah satu kelemahan subsidi BBM selama ini, yang selalu mendapat kritik tajam dari para pengamat adalah penikmatnya yang justru lebih banyak dari kalangan menengah atas. Itulah kelemahan subsidi harga, bukan subsidi langsung kepada rakyat tidak mampu. Menaikkan harga BBM bersubsidi dan memberikan bantuan langsung kepada rakyat tidak mampu adalah solusi tepat.
Tapi, bantuan kepada rakyat miskin bukanlah berupa uang tunai seperti 2005-2006, dan 2008. Bantuan langsung tunai (BLT) pada dua periode itu sama sekali tidak menaikkan kesejahteraan rakyat miskin dan hampir miskin, selain tidak sesuai sasaran. Setelah menerima uang tunai dan membelanjakannya, mereka kembali miskin. Karena mereka diberikan ikan, bukan kail dan tidak diajari cara menggunakan kail dengan baik, mereka tetap berkubang dalam kemiskinan.
BLT bahkan menjadi ajang mencari dukungan politik. Mereka yang tidak berhak pun memperoleh BLT asalkan dekat dengan pejabat desa dan kecamatan. BLT terbukti menjadi bahan kampanye daya tarik paling manjur bagi incumbent dan partai berkuasa. Tidak ada satu kandidat pun yang mampu membelanjakan dana di atas Rp 15 triliun untuk rakyat miskin dan hampir miskin saat kampanye.
Subsidi BBM juga membuka peluang penyelundupan. Sebagai negeri kepulauan dengan wilayah laut yang luas, disparitas harga BBM antara Indonesia dan negara tetangga memicu penyelundupan di lepas pantai. Aparat keamanan RI yang terbatas dalam jumlah dan peralatan sulit mencegah pergerakan kapal ikan asing. Para nelayan asing dengan kapal dan peralatan yang canggih dengan leluasa mencuri ikan dan membeli BBM bersubsidi Indonesia.
Walau menaikkan harga adalah opsi terbaik, saat ini kita tidak perlu membuang energi untuk mendorong kenaikan harga BBM. Jauh lebih konstruktif kita mendukung pemerintah membatasi pemakaian BBM bersubsidi dan melakukan konversi BBM ke BBG, terutama untuk transportasi. Rapat paripurna DPR RI, 31 Maret 2012 sudah memutuskan untuk menyerahkan kepada pemerintah wewenang menaikkan dan menurunkan harga BBM dengan syarat. Jika rata-rata harga minyak mentah setahun terakhir 15% di atas atau di bawah US$ 105 per barel, harga patokan APBN-P 2012, pemerintah dipersilakan menaikkan atau menurunkan harga BBM.
Pembatasan yang terlalu ekstrem memang tidak adil bagi masyarakat menengah karena angkutan umum massal di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia masih sangat terbatas di samping tidak aman dan nyaman. Sungguh pun demikian, dalam keterbatasan ini, pemerintah bisa mulai mengambil langkah sistematis membatasi penggunaan premium dan solar bersubsidi.
Pertama, mendata dengan akurat rakyat pengguna kendaraan pribadi yang layak mendapat subsidi. Kedua, mereka yang pantas disubsidi diberikan kartu subsidi BBM. Mereka mengisi BBM di SPBU dengan kartu itu. Ketiga, besarnya subsidi BBM per bulan— yang diukur dengan jumlah liter premium atau solar yang dipakai dikalikan harga subsidi— tertera dalam kartu. Yang disubsidi hanyalah penggunaan BBM untuk perjalanan sangat penting, yakni pergi-pulang tempat kerja, ke sekolah anak, pasar, serta sejumlah tempat dan acara penting. Cara ini merangsang kaum tidak mampu yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berhemat. Seperti kartu e-toll, jika jatah subsidi BBM sudah habis, premium atau solar di SPBU tidak bisa lagi mengucur ke tangki pemegang kartu.
Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi hanyalah langkah awal untuk menapak pada solusi yang lebih strategis dan penting. Solusi lain adalah konversi BBM ke BBG untuk transportasi dan industri. Masalah gas dari hulu hingga hilir harus segera dibereskan. Di hulu, pemerintah perlu memberikan rangsangan kepada perusahaan untuk menemukan sumur gas baru. Gas yang dihasilkan harus diprioritaskan bagi kebutuhan dalam negeri, baik untuk transportasi, industri, maupun rumah tangga.
Di level antara, pemerintah perlu mendorong PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk membangun pipa gas di sentra konsumsi dan berbagai infrastruktur penunjang. Sedangkan di hilir, pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas harus lebih didorong dengan berbagai insentif.
Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, harus memiliki fasilitas untuk pengisian BBG. Tidak ada alasan bagi pemilik kendaraan untuk tidak menggunakan BBG karena alasan tidak ada fasilitas. Semua kendaraan umum wajib menggunakan BBG. Bersamaan dengan itu, pemerintah lebih serius membangun sistem dan infrastruktur transportasi. Angkutan umum tidak saja berbasis bus, melainkan juga monorel, mass rapit transit (MRT), dan kereta api biasa.
Ini semua hanya mungkin terlaksana jika pemerintah memiliki kebijakan energi nasional dan kebijakan transportasi umum yang baik. Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi kita dukung penuh, tapi itu hanya langkah awal
Ibnu Syahreza
Menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah pasti menjadi kebijakan yang tidak bisa dielakkan pemerintah pada masa akan datang. Siapa pun presiden RI, menaikkan harga BBM dan konversi energi dari BBM ke bahan bakar gas (BBG) adalah sebuah keharusan. Pemerintah juga harus lebih giat dan kreatif dalam mencari energi alternatif. Indonesia kini sudah menjadi net oil importer.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM yang terus meningkat setiap tahun, pemerintah lewat PT Pertamina terus mengimpor minyak mentah dan BBM. Dengan tingkat harga yang relatif rendah akibat besarnya subsidi, konsumsi BBM terus membengkak Defisit energi minyak tahun 2011 sebesar US$ 12,15 miliar dan bakal mencapai US$ 20,67 miliar pada 2012. Ekspor minyak mentah dan produk minyak Indonesia tahun 2011 hanya US$ 18,61 miliar, sedangkan impor pada tahun yang sama mencapai US$ 39,28 miliar. Dengan cadangan minyak mentah sudah menipis, konsumsi BBM bersubsidi perlu dibatasi sebagai langkah melepas ketergantungan terhadap BBM.
Konsumsi BBM bersubsidi terus meningkat dari 38,2 juta kiloliter pada 2010 menjadi 41,7 juta kiloliter pada 2011. Jika tidak dibatasi, konsumsi BBM bersubsidi tahun ini bakal menembus 43 juta kiloliter. Pemerintah dan DPR RI sudah sepakat mematok konsumsi BBM bersubsidi tahun ini 40 juta kiloliter. Kenaikan konsumsi mendorong subsidi BBM yang pada APBN-P 2012 dipatok maksimal Rp 137,4 triliun.
Salah satu cara efektif untuk mengerem konsumsi BBM adalah harga. Jika harga tinggi atau tidak jauh dari harga pasar, konsumsi BBM per individu akan menurun. Orang akan berpikir seribu kali untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kalaupun menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian, pergerakan harus dibatasi. Harga BBM yang murah memicu konsumsi yang tidak terkontrol.
Salah satu kelemahan subsidi BBM selama ini, yang selalu mendapat kritik tajam dari para pengamat adalah penikmatnya yang justru lebih banyak dari kalangan menengah atas. Itulah kelemahan subsidi harga, bukan subsidi langsung kepada rakyat tidak mampu. Menaikkan harga BBM bersubsidi dan memberikan bantuan langsung kepada rakyat tidak mampu adalah solusi tepat.
Tapi, bantuan kepada rakyat miskin bukanlah berupa uang tunai seperti 2005-2006, dan 2008. Bantuan langsung tunai (BLT) pada dua periode itu sama sekali tidak menaikkan kesejahteraan rakyat miskin dan hampir miskin, selain tidak sesuai sasaran. Setelah menerima uang tunai dan membelanjakannya, mereka kembali miskin. Karena mereka diberikan ikan, bukan kail dan tidak diajari cara menggunakan kail dengan baik, mereka tetap berkubang dalam kemiskinan.
BLT bahkan menjadi ajang mencari dukungan politik. Mereka yang tidak berhak pun memperoleh BLT asalkan dekat dengan pejabat desa dan kecamatan. BLT terbukti menjadi bahan kampanye daya tarik paling manjur bagi incumbent dan partai berkuasa. Tidak ada satu kandidat pun yang mampu membelanjakan dana di atas Rp 15 triliun untuk rakyat miskin dan hampir miskin saat kampanye.
Subsidi BBM juga membuka peluang penyelundupan. Sebagai negeri kepulauan dengan wilayah laut yang luas, disparitas harga BBM antara Indonesia dan negara tetangga memicu penyelundupan di lepas pantai. Aparat keamanan RI yang terbatas dalam jumlah dan peralatan sulit mencegah pergerakan kapal ikan asing. Para nelayan asing dengan kapal dan peralatan yang canggih dengan leluasa mencuri ikan dan membeli BBM bersubsidi Indonesia.
Walau menaikkan harga adalah opsi terbaik, saat ini kita tidak perlu membuang energi untuk mendorong kenaikan harga BBM. Jauh lebih konstruktif kita mendukung pemerintah membatasi pemakaian BBM bersubsidi dan melakukan konversi BBM ke BBG, terutama untuk transportasi. Rapat paripurna DPR RI, 31 Maret 2012 sudah memutuskan untuk menyerahkan kepada pemerintah wewenang menaikkan dan menurunkan harga BBM dengan syarat. Jika rata-rata harga minyak mentah setahun terakhir 15% di atas atau di bawah US$ 105 per barel, harga patokan APBN-P 2012, pemerintah dipersilakan menaikkan atau menurunkan harga BBM.
Pembatasan yang terlalu ekstrem memang tidak adil bagi masyarakat menengah karena angkutan umum massal di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia masih sangat terbatas di samping tidak aman dan nyaman. Sungguh pun demikian, dalam keterbatasan ini, pemerintah bisa mulai mengambil langkah sistematis membatasi penggunaan premium dan solar bersubsidi.
Pertama, mendata dengan akurat rakyat pengguna kendaraan pribadi yang layak mendapat subsidi. Kedua, mereka yang pantas disubsidi diberikan kartu subsidi BBM. Mereka mengisi BBM di SPBU dengan kartu itu. Ketiga, besarnya subsidi BBM per bulan— yang diukur dengan jumlah liter premium atau solar yang dipakai dikalikan harga subsidi— tertera dalam kartu. Yang disubsidi hanyalah penggunaan BBM untuk perjalanan sangat penting, yakni pergi-pulang tempat kerja, ke sekolah anak, pasar, serta sejumlah tempat dan acara penting. Cara ini merangsang kaum tidak mampu yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berhemat. Seperti kartu e-toll, jika jatah subsidi BBM sudah habis, premium atau solar di SPBU tidak bisa lagi mengucur ke tangki pemegang kartu.
Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi hanyalah langkah awal untuk menapak pada solusi yang lebih strategis dan penting. Solusi lain adalah konversi BBM ke BBG untuk transportasi dan industri. Masalah gas dari hulu hingga hilir harus segera dibereskan. Di hulu, pemerintah perlu memberikan rangsangan kepada perusahaan untuk menemukan sumur gas baru. Gas yang dihasilkan harus diprioritaskan bagi kebutuhan dalam negeri, baik untuk transportasi, industri, maupun rumah tangga.
Di level antara, pemerintah perlu mendorong PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk membangun pipa gas di sentra konsumsi dan berbagai infrastruktur penunjang. Sedangkan di hilir, pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas harus lebih didorong dengan berbagai insentif.
Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, harus memiliki fasilitas untuk pengisian BBG. Tidak ada alasan bagi pemilik kendaraan untuk tidak menggunakan BBG karena alasan tidak ada fasilitas. Semua kendaraan umum wajib menggunakan BBG. Bersamaan dengan itu, pemerintah lebih serius membangun sistem dan infrastruktur transportasi. Angkutan umum tidak saja berbasis bus, melainkan juga monorel, mass rapit transit (MRT), dan kereta api biasa.
Ini semua hanya mungkin terlaksana jika pemerintah memiliki kebijakan energi nasional dan kebijakan transportasi umum yang baik. Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi kita dukung penuh, tapi itu hanya langkah awal
Ibnu Syahreza
Label:
BBM,
berita ekonomi,
ekonomi,
ICP,
Indo Media News,
Indonesia,
Indonesia Times,
Kenaikan harga BBM bersubsidi,
News,
okezone.com,
pembatasanBM BBM,
Pertamax
Langganan:
Postingan (Atom)
