Indomedia News menampilkan berbagai berita di Indonesia maupun dunia yang aktual,objektive,menarik dan faktual
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Times. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Times. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 April 2012
Politisi PDIP: 'SBY' bermental 'Calo'
JAKARTA - Ketua Komisi IX DPR,
Ribka Tjiptaning, menilai
pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono memiliki mental calo
menyusul masih banyaknya
kasus penyiksaan terhadap
Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
"Kalau mentalnya pimpinan
negara masih mental calo ya
masih begini. Yang penting fee
nya aja, tapi waktu rakyatnya
susah di luar negeri tidak diusut.
Perlindungannya tidak serius akan
begini terus," tuturnya saat
ditemui wartawan di DPR, Jakarta,
Jumat (27/04/2012).
Menurut Ribka, Presiden harus
turun tangan langsung dalam
menyikapi hal ini. Presiden harus
bersikap tegas untuk mengusut
kasus tersebut. Bukan hanya
mengirimkan para menterinya.
"Ini keberanian SBY sajalah
selesaikan ini melindungi warga
negara sebagai pimpinan negeri.
Kalau cuma menteri sudah gak
ada apa-apa lagi sampai dengan
timsus kesana dicuekin,"
imbuhnya.
Lebih lanjut politisi PDIP ini
menyarankan agar pemerintah
menarik seluruh TKI yang berada
di Malaysia. Hal ini dianggap
sebagai salah satu bentuk protes
terhadap Negeri Jiran tersebut.
"Memang dia harus berani, harus
revolusioner untuk Malaysia. Tarik
semua TKI disana. Kalau
pemerintah bentuk satgas udah
kebanyakan satgas. Udahlah
satgas partai aja deh,"
sambungnya.
Pada kesempatan tersebut, Ribka
menyatakan banyaknya
pengiriman TKI ke luar negeri dan
ditolaknya pengajuan moratorium
adalah salah satu bukti bahwa
pemerintah tidak mampu
menyediakan lapangan kerja bagi
warga negaranya.
"Ini bentuk kegagalan pemerintah
menyediakan lapangan kerja bagi
warga negara. Karena tidak ada
satu orang pun yang mau
berpisah dengan keluarganya cari
nafkah di luar negeri," terangnya.
Suju Latihan Keras untuk Tampil Malam Ini
JAKARTA - Boyband Super
Junior (Suju) siap memukau para
penggemarnya yang kebanyakan
remaja putri, di Mata Elang
International Stadium (MEIS),
Ancol, Jakarta Utara, malam ini.
Mereka siap tampil selama empat
jam dengan rangkaian konser dan
atraksi teatrikal yang memesona.
Donghae cs telah mendarat di
Bandara Internasional Soekarno
Hatta, sejak kemarin sore.
Kabarnya, mereka langsung
keluar melalui pintu VIP terminal
1. Tentu, ribuan ELF yang sudah
menanti di pintu kedatangan 2D
sangat kecewa. Banyak yang
menangis dan marah-marah
karena seharian menunggu tapi
tak satupun personel yang terlihat
di sana.
Sepertinya, jadwal Suju memang
sangat padat. Karena setibanya di
Jakarta, mereka langsung latihan
di Mata Elang International
Stadium, Ancol, Jakarta. Itu
diungkapkan oleh Donghae, salah
satu personel mereka melalui
akun Twitternya.
“Jakarta! Kita kerja keras latihan
sekarang, sampai jumpa besok,”
tulis Donghae di Twitter
pribadinya, 12 jam lalu.
Selain itu, Donghae juga mem-
posting sebuah foto yang
menggambarkan mereka sedang
latihan koreografi untuk Super
Show 4 yang akan dilaksanakan
selama tiga hari berturut-turut,
mulai malam ini, hingga Minggu,
30 April 2012.
Ratusan Penggemar SuJu Surabaya Berangkat ke Jakarta
SURABAYA - Ratusan
penggemar boy band asal Korea
Selatan (Korsel), Super Junior
(SuJu) asal Surabaya, Jawa Timur,
hari ini berangkat ke Jakarta.
Penggemar yang didominasi
remaja perempuan itu, Jumat
(27/4/2012) siang tadi berkumpul
di Gedung JX International di Jalan
Ahmad Yani, untuk berangkat
bersama menggunakan dua bus.
Dua penggemar, Faridatul dan
Erinda Erindani, hanya bisa
menangis melihat teman-
temannya berangkat
menyaksikan konser. Mereka tidak
berhasil mendapat tiket dan tidak
diizinkan orangtua berangkat ke
Jakarta.
Berbeda halnya dirasakan Rizki
Meriandani, dia berkesempatan
menonton aksi boy band
favoritnya itu setelah berjuang
membeli tiket. Rizki dan
rombongan berangkat sore ini
dan diperkirakan sampai di Jakarta
besok pagi.
Konser SuJu akan digelar mulai 27
hingga 29 April di Mata Elang
International Stadium, Ancol,
Jakarta Timur.
JAKARTA - PT Pertamina
(Persero) mengimbau kepada
pengusaha SPBU untuk
merelakan SPBU-nya diganti
dengan SPBU khusus Bahan
Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi.
Hal tersebut, diungkapkan agar
pemerintah tidak terlalu banyak
membangun SPBU nonsubsidi.
"Dari segi jumlah SPBU, kita akan
memaksimalkan SPBU yang ada
pertamax. Jadi kita juga dorong
pengusaha SPBU yang punya
SPBU lebih dari tiga agar salah
satunya diwakafkan ke SPBU
khusus pertamax," ungkap
Direktur Marketing dan Trading
Pertamina Hanung Budya
Yuktyanta saat peresmian SPBU di
Pondok Indah, Jakarta, Jumat
(27/4/2012).
Menurut Hanung, Pertamina akan
mendukung langkah SPBU yang
berpindah menjadi SPBU khusus
nonsubsidi. Hal ini, dijelaskan
Hanung, untuk menyelamatkan
APBN Indonesia yang terus
terbebani akibat tingginya harga
minyak dunia. "Marginnya nanti
kita akan perhitungkan, akan
dinaikkan mulai 1 Mei nanti," lanjut
dia.
Pertamina berjanji, akan
menaikkan margin keuntungan
penjualan pertamax dari Rp320
per liter menjadi Rp500 per liter.
Jika margin dari penjualan
pertamax ini dinaikkan, Hanung
yakin pengusaha SPBU tidak akan
segan berpindah ke SPBU khusus
pertamax.
"Margin premium Rp210 per liter,
pertamax Rp500 per liter, jadi
jualan pertamax seliter sama
dengan jualan premium dua liter
lebih, jadi bukan rugi, tetapi
menunda untung," tandas dia.
Salah satunya adalah di SPBU
Pondok Indah milik Pertamina
yang khusus menjual BBM
nonsubsidi. Tadinya, SPBU ini
menyediakan stok BBM
nonsubsidi sebesar 15 ribu liter
per hari. Ketika berpindah ke BBM
nonsubsidi, SPBU ini hanya
menyediakan 2.500 liter
pertamax, pertamax plus dan
pertamax dex per hari. (mrt)
Label:
BBM,
berita ekonomi,
berita pendidikan,
Breaking News,
ICP,
Indomedia News,
Indonesia Times,
Kenaikan harga BBM bersubsidi,
Okezone,
pembatasanBM BBM,
politik
Senin, 23 April 2012
Densus 88 Bebaskan Dokter Gigi Terduga Teroris Bima
Detasemen Khusus 88
Antiteror membebaskan
dokter gigi Yuni Ardhie
(46) yag sebelumnya
ditangkap karena diduga
terkait jaringan teroris
di Bima, Jumat (13/4).
"Iya benar dilepaskan.
Dia tidak terbukti
memberikan bantuan
kepada KN," ujar Kepala
Bagian Penerangan
Umum Divisi Humas
Polri, Komisaris Besar
Boy Rafli Amar, di Mabes
Polri, Jakarta, Senin
(23/4).
Sebelumnya, Densus 88
Polri menangkap dua
orang yang diduga
terlibat aksi terorisme,
KN dan Yuni di Jalan
Bougenville, Kampung
Tolomundu, Kelurahan
Pane, Kecamatan Rasane
Barat, Bima. Mereka
tertangkap pukul 15.15
WITA, Jumat (13/4).
Menurut polisi, KN
terlibat perampokan di
Purwakarta, dan teror
CIMB Niaga Medan. KN
juga ikut dalam
pelatihan militer di Aceh.
Sementara, seorang
terduga lainnya, Yuni
diduga menyembunyikan
KN yang menjadi buron
polisi.
Minggu, 22 April 2012
Ya Ampun, 23 BUMN Rugi Rp3,2 Triliun
Kementerian BUMN
mencatat sebanyak 23
perusahaan milik negara
menderita kerugian
senilai Rp3,2 triliun, dari
total laba seluruh BUMN
sebesar Rp123,93 triliun.
"Meskipun mampu
mencetak laba hingga
Rp123,93 triliun, namun
masih terdapat sebanyak
23 perusahaan yang
masih rugi," kata
Sekretaris Kementerian
BUMN, Wahyu Hidayat,
di sela Paparan Kinerja
BUMN Tahun 2011, di
Kantor Kementerian
BUMN, Jakarta, Jumat
(20/4).
Menurut Wahyu, dari 23
BUMN yang merugi
tersebut sebanyak 15
perusahaan di antaranya
merupakan hasil laporan
keuangan unaudited
(belum audit), tiga audit
tahun buku 2012,
selebihnya berdasarkan
audit tahun-tahun
sebelumnya.
Berdasarkan data, rugi
terbesar tahun 2011
dialami PT Pal Indonesia
yang mencapai Rp1,323
triliun, disusul PT
Merpati Nusantara
Airlines sebesar
Rp778,649 miliar.
Selanjutnya, PT
Dirgantara Indonesia
Rp356,527 miliar, PT PT
Danareksa Rp287,37
miliar, PT Bahana PUI
Rp143,977 miliar, PT
Perkebunan Nusantara
XIV Rp113,84 miliar.
Adapun rugi terkecil
yaitu PT Inhutani III
sebesar Rp58 juta, PT
Industri Kapal Indonesia
(Laporan Keuangan
Audited 2010) rugi
sebesar Rp805 juta, dan
PT PDIP Batam sebsear
Rp1,3 miliar.
Wahyu menjelaskan,
Kementerian BUMN
tidak bisa memaksakan
seluruh BUMN harus
mencatat untung karena
proses di tiap-tiap
perusahaan tentu
berbeda. "Meski cita-
cita Kementerian adalah
seluruh BUMN mampu
meraih kinerja keuangan
yang maksimal namun
banyak hal yang harus
dilakukan seperti PT
Kertas Leces," ujarnya.
Meski demikian ia
menambahkan,
pencapaian laba BUMN
tersebut masih bisa
berubah karena belum
seluruhnya
menyelesaikan laporan
keuangan. Secara
keseluruhan total laba
140 BUMN pada 2011
mencapai Rp123,935
triliun, ditargetkan naik
17,45 persen menjadi
Rp145,564 triliun pada
2012. "Pertumbuhan laba
2012 akan didorong
membaiknya
perekonomian nasional,
dan program efisiensi di
masing-masing BUMN
yang diselaraskan
dengan kemampuan
perusahaan dalam
menyediakan belanja
modal (capex) dan
belanja operasional
(opex)," kata Wahyu.
Senin, 16 April 2012
Pembatasan BBM, Langkah Awal
Mudah-mudahan kali ini pemerintah lebih serius dan tidak lagi ragu
membatasi BBM bersubsidi. Penurunan harga minyak mentah sepekan terakhir
kemungkinan berlanjut hingga akhir tahun. Tahun ini, ratarata Indonesia crude price (ICP),
harga minyak mentah Indonesia, kemungkinan di bawah US$ 105 per barel,
harga yang menjadi asumsi APBNP 2012. Jika itu terjadi, APBN tahun ini
cukup aman.
Menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah pasti menjadi kebijakan yang tidak bisa dielakkan pemerintah pada masa akan datang. Siapa pun presiden RI, menaikkan harga BBM dan konversi energi dari BBM ke bahan bakar gas (BBG) adalah sebuah keharusan. Pemerintah juga harus lebih giat dan kreatif dalam mencari energi alternatif. Indonesia kini sudah menjadi net oil importer.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM yang terus meningkat setiap tahun, pemerintah lewat PT Pertamina terus mengimpor minyak mentah dan BBM. Dengan tingkat harga yang relatif rendah akibat besarnya subsidi, konsumsi BBM terus membengkak Defisit energi minyak tahun 2011 sebesar US$ 12,15 miliar dan bakal mencapai US$ 20,67 miliar pada 2012. Ekspor minyak mentah dan produk minyak Indonesia tahun 2011 hanya US$ 18,61 miliar, sedangkan impor pada tahun yang sama mencapai US$ 39,28 miliar. Dengan cadangan minyak mentah sudah menipis, konsumsi BBM bersubsidi perlu dibatasi sebagai langkah melepas ketergantungan terhadap BBM.
Konsumsi BBM bersubsidi terus meningkat dari 38,2 juta kiloliter pada 2010 menjadi 41,7 juta kiloliter pada 2011. Jika tidak dibatasi, konsumsi BBM bersubsidi tahun ini bakal menembus 43 juta kiloliter. Pemerintah dan DPR RI sudah sepakat mematok konsumsi BBM bersubsidi tahun ini 40 juta kiloliter. Kenaikan konsumsi mendorong subsidi BBM yang pada APBN-P 2012 dipatok maksimal Rp 137,4 triliun.
Salah satu cara efektif untuk mengerem konsumsi BBM adalah harga. Jika harga tinggi atau tidak jauh dari harga pasar, konsumsi BBM per individu akan menurun. Orang akan berpikir seribu kali untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kalaupun menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian, pergerakan harus dibatasi. Harga BBM yang murah memicu konsumsi yang tidak terkontrol.
Salah satu kelemahan subsidi BBM selama ini, yang selalu mendapat kritik tajam dari para pengamat adalah penikmatnya yang justru lebih banyak dari kalangan menengah atas. Itulah kelemahan subsidi harga, bukan subsidi langsung kepada rakyat tidak mampu. Menaikkan harga BBM bersubsidi dan memberikan bantuan langsung kepada rakyat tidak mampu adalah solusi tepat.
Tapi, bantuan kepada rakyat miskin bukanlah berupa uang tunai seperti 2005-2006, dan 2008. Bantuan langsung tunai (BLT) pada dua periode itu sama sekali tidak menaikkan kesejahteraan rakyat miskin dan hampir miskin, selain tidak sesuai sasaran. Setelah menerima uang tunai dan membelanjakannya, mereka kembali miskin. Karena mereka diberikan ikan, bukan kail dan tidak diajari cara menggunakan kail dengan baik, mereka tetap berkubang dalam kemiskinan.
BLT bahkan menjadi ajang mencari dukungan politik. Mereka yang tidak berhak pun memperoleh BLT asalkan dekat dengan pejabat desa dan kecamatan. BLT terbukti menjadi bahan kampanye daya tarik paling manjur bagi incumbent dan partai berkuasa. Tidak ada satu kandidat pun yang mampu membelanjakan dana di atas Rp 15 triliun untuk rakyat miskin dan hampir miskin saat kampanye.
Subsidi BBM juga membuka peluang penyelundupan. Sebagai negeri kepulauan dengan wilayah laut yang luas, disparitas harga BBM antara Indonesia dan negara tetangga memicu penyelundupan di lepas pantai. Aparat keamanan RI yang terbatas dalam jumlah dan peralatan sulit mencegah pergerakan kapal ikan asing. Para nelayan asing dengan kapal dan peralatan yang canggih dengan leluasa mencuri ikan dan membeli BBM bersubsidi Indonesia.
Walau menaikkan harga adalah opsi terbaik, saat ini kita tidak perlu membuang energi untuk mendorong kenaikan harga BBM. Jauh lebih konstruktif kita mendukung pemerintah membatasi pemakaian BBM bersubsidi dan melakukan konversi BBM ke BBG, terutama untuk transportasi. Rapat paripurna DPR RI, 31 Maret 2012 sudah memutuskan untuk menyerahkan kepada pemerintah wewenang menaikkan dan menurunkan harga BBM dengan syarat. Jika rata-rata harga minyak mentah setahun terakhir 15% di atas atau di bawah US$ 105 per barel, harga patokan APBN-P 2012, pemerintah dipersilakan menaikkan atau menurunkan harga BBM.
Pembatasan yang terlalu ekstrem memang tidak adil bagi masyarakat menengah karena angkutan umum massal di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia masih sangat terbatas di samping tidak aman dan nyaman. Sungguh pun demikian, dalam keterbatasan ini, pemerintah bisa mulai mengambil langkah sistematis membatasi penggunaan premium dan solar bersubsidi.
Pertama, mendata dengan akurat rakyat pengguna kendaraan pribadi yang layak mendapat subsidi. Kedua, mereka yang pantas disubsidi diberikan kartu subsidi BBM. Mereka mengisi BBM di SPBU dengan kartu itu. Ketiga, besarnya subsidi BBM per bulan— yang diukur dengan jumlah liter premium atau solar yang dipakai dikalikan harga subsidi— tertera dalam kartu. Yang disubsidi hanyalah penggunaan BBM untuk perjalanan sangat penting, yakni pergi-pulang tempat kerja, ke sekolah anak, pasar, serta sejumlah tempat dan acara penting. Cara ini merangsang kaum tidak mampu yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berhemat. Seperti kartu e-toll, jika jatah subsidi BBM sudah habis, premium atau solar di SPBU tidak bisa lagi mengucur ke tangki pemegang kartu.
Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi hanyalah langkah awal untuk menapak pada solusi yang lebih strategis dan penting. Solusi lain adalah konversi BBM ke BBG untuk transportasi dan industri. Masalah gas dari hulu hingga hilir harus segera dibereskan. Di hulu, pemerintah perlu memberikan rangsangan kepada perusahaan untuk menemukan sumur gas baru. Gas yang dihasilkan harus diprioritaskan bagi kebutuhan dalam negeri, baik untuk transportasi, industri, maupun rumah tangga.
Di level antara, pemerintah perlu mendorong PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk membangun pipa gas di sentra konsumsi dan berbagai infrastruktur penunjang. Sedangkan di hilir, pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas harus lebih didorong dengan berbagai insentif.
Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, harus memiliki fasilitas untuk pengisian BBG. Tidak ada alasan bagi pemilik kendaraan untuk tidak menggunakan BBG karena alasan tidak ada fasilitas. Semua kendaraan umum wajib menggunakan BBG. Bersamaan dengan itu, pemerintah lebih serius membangun sistem dan infrastruktur transportasi. Angkutan umum tidak saja berbasis bus, melainkan juga monorel, mass rapit transit (MRT), dan kereta api biasa.
Ini semua hanya mungkin terlaksana jika pemerintah memiliki kebijakan energi nasional dan kebijakan transportasi umum yang baik. Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi kita dukung penuh, tapi itu hanya langkah awal
Ibnu Syahreza
Menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah pasti menjadi kebijakan yang tidak bisa dielakkan pemerintah pada masa akan datang. Siapa pun presiden RI, menaikkan harga BBM dan konversi energi dari BBM ke bahan bakar gas (BBG) adalah sebuah keharusan. Pemerintah juga harus lebih giat dan kreatif dalam mencari energi alternatif. Indonesia kini sudah menjadi net oil importer.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM yang terus meningkat setiap tahun, pemerintah lewat PT Pertamina terus mengimpor minyak mentah dan BBM. Dengan tingkat harga yang relatif rendah akibat besarnya subsidi, konsumsi BBM terus membengkak Defisit energi minyak tahun 2011 sebesar US$ 12,15 miliar dan bakal mencapai US$ 20,67 miliar pada 2012. Ekspor minyak mentah dan produk minyak Indonesia tahun 2011 hanya US$ 18,61 miliar, sedangkan impor pada tahun yang sama mencapai US$ 39,28 miliar. Dengan cadangan minyak mentah sudah menipis, konsumsi BBM bersubsidi perlu dibatasi sebagai langkah melepas ketergantungan terhadap BBM.
Konsumsi BBM bersubsidi terus meningkat dari 38,2 juta kiloliter pada 2010 menjadi 41,7 juta kiloliter pada 2011. Jika tidak dibatasi, konsumsi BBM bersubsidi tahun ini bakal menembus 43 juta kiloliter. Pemerintah dan DPR RI sudah sepakat mematok konsumsi BBM bersubsidi tahun ini 40 juta kiloliter. Kenaikan konsumsi mendorong subsidi BBM yang pada APBN-P 2012 dipatok maksimal Rp 137,4 triliun.
Salah satu cara efektif untuk mengerem konsumsi BBM adalah harga. Jika harga tinggi atau tidak jauh dari harga pasar, konsumsi BBM per individu akan menurun. Orang akan berpikir seribu kali untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kalaupun menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian, pergerakan harus dibatasi. Harga BBM yang murah memicu konsumsi yang tidak terkontrol.
Salah satu kelemahan subsidi BBM selama ini, yang selalu mendapat kritik tajam dari para pengamat adalah penikmatnya yang justru lebih banyak dari kalangan menengah atas. Itulah kelemahan subsidi harga, bukan subsidi langsung kepada rakyat tidak mampu. Menaikkan harga BBM bersubsidi dan memberikan bantuan langsung kepada rakyat tidak mampu adalah solusi tepat.
Tapi, bantuan kepada rakyat miskin bukanlah berupa uang tunai seperti 2005-2006, dan 2008. Bantuan langsung tunai (BLT) pada dua periode itu sama sekali tidak menaikkan kesejahteraan rakyat miskin dan hampir miskin, selain tidak sesuai sasaran. Setelah menerima uang tunai dan membelanjakannya, mereka kembali miskin. Karena mereka diberikan ikan, bukan kail dan tidak diajari cara menggunakan kail dengan baik, mereka tetap berkubang dalam kemiskinan.
BLT bahkan menjadi ajang mencari dukungan politik. Mereka yang tidak berhak pun memperoleh BLT asalkan dekat dengan pejabat desa dan kecamatan. BLT terbukti menjadi bahan kampanye daya tarik paling manjur bagi incumbent dan partai berkuasa. Tidak ada satu kandidat pun yang mampu membelanjakan dana di atas Rp 15 triliun untuk rakyat miskin dan hampir miskin saat kampanye.
Subsidi BBM juga membuka peluang penyelundupan. Sebagai negeri kepulauan dengan wilayah laut yang luas, disparitas harga BBM antara Indonesia dan negara tetangga memicu penyelundupan di lepas pantai. Aparat keamanan RI yang terbatas dalam jumlah dan peralatan sulit mencegah pergerakan kapal ikan asing. Para nelayan asing dengan kapal dan peralatan yang canggih dengan leluasa mencuri ikan dan membeli BBM bersubsidi Indonesia.
Walau menaikkan harga adalah opsi terbaik, saat ini kita tidak perlu membuang energi untuk mendorong kenaikan harga BBM. Jauh lebih konstruktif kita mendukung pemerintah membatasi pemakaian BBM bersubsidi dan melakukan konversi BBM ke BBG, terutama untuk transportasi. Rapat paripurna DPR RI, 31 Maret 2012 sudah memutuskan untuk menyerahkan kepada pemerintah wewenang menaikkan dan menurunkan harga BBM dengan syarat. Jika rata-rata harga minyak mentah setahun terakhir 15% di atas atau di bawah US$ 105 per barel, harga patokan APBN-P 2012, pemerintah dipersilakan menaikkan atau menurunkan harga BBM.
Pembatasan yang terlalu ekstrem memang tidak adil bagi masyarakat menengah karena angkutan umum massal di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia masih sangat terbatas di samping tidak aman dan nyaman. Sungguh pun demikian, dalam keterbatasan ini, pemerintah bisa mulai mengambil langkah sistematis membatasi penggunaan premium dan solar bersubsidi.
Pertama, mendata dengan akurat rakyat pengguna kendaraan pribadi yang layak mendapat subsidi. Kedua, mereka yang pantas disubsidi diberikan kartu subsidi BBM. Mereka mengisi BBM di SPBU dengan kartu itu. Ketiga, besarnya subsidi BBM per bulan— yang diukur dengan jumlah liter premium atau solar yang dipakai dikalikan harga subsidi— tertera dalam kartu. Yang disubsidi hanyalah penggunaan BBM untuk perjalanan sangat penting, yakni pergi-pulang tempat kerja, ke sekolah anak, pasar, serta sejumlah tempat dan acara penting. Cara ini merangsang kaum tidak mampu yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berhemat. Seperti kartu e-toll, jika jatah subsidi BBM sudah habis, premium atau solar di SPBU tidak bisa lagi mengucur ke tangki pemegang kartu.
Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi hanyalah langkah awal untuk menapak pada solusi yang lebih strategis dan penting. Solusi lain adalah konversi BBM ke BBG untuk transportasi dan industri. Masalah gas dari hulu hingga hilir harus segera dibereskan. Di hulu, pemerintah perlu memberikan rangsangan kepada perusahaan untuk menemukan sumur gas baru. Gas yang dihasilkan harus diprioritaskan bagi kebutuhan dalam negeri, baik untuk transportasi, industri, maupun rumah tangga.
Di level antara, pemerintah perlu mendorong PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk membangun pipa gas di sentra konsumsi dan berbagai infrastruktur penunjang. Sedangkan di hilir, pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas harus lebih didorong dengan berbagai insentif.
Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, harus memiliki fasilitas untuk pengisian BBG. Tidak ada alasan bagi pemilik kendaraan untuk tidak menggunakan BBG karena alasan tidak ada fasilitas. Semua kendaraan umum wajib menggunakan BBG. Bersamaan dengan itu, pemerintah lebih serius membangun sistem dan infrastruktur transportasi. Angkutan umum tidak saja berbasis bus, melainkan juga monorel, mass rapit transit (MRT), dan kereta api biasa.
Ini semua hanya mungkin terlaksana jika pemerintah memiliki kebijakan energi nasional dan kebijakan transportasi umum yang baik. Pembatasan penggunaan BBM bersubsidi kita dukung penuh, tapi itu hanya langkah awal
Ibnu Syahreza
Label:
BBM,
berita ekonomi,
ekonomi,
ICP,
Indo Media News,
Indonesia,
Indonesia Times,
Kenaikan harga BBM bersubsidi,
News,
okezone.com,
pembatasanBM BBM,
Pertamax
Langganan:
Postingan (Atom)
